PROBLEMATIKA, METODE, DAN MODEL PENDIDIKAN ISLAM

Sabtu, 11 Juni 2011

BAB I
PENDAHULUAN

A.    Latar Belakang
Dalam pasal 55 Undang-undang nomor 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional dinyatakan bahwa masyarakat diberikan kesempatan untuk menyelenggarakan pendidikan berbasis masyarakat sesuai dengan kekhasan agama, lingkungan, sosial, dan budaya untuk kepentingan masyarakat. Dalam hubungannya dengan undang-umdang tersebut, maka setiap satuan pendidikan baik yangh di selenggarakan negara (sekolah negeri) maupun oleh masyarakat (sekolah swasta) mempunyai kedudukan yang sama dalam sistem pelaksanaan kurikulum, evaluasi pendidikan serta manajemen dan pendanaannya sesuai dengan standar nasional pendidikan. Hal tersebut juga berlaku pada sekolah-sekolah yang berlabel agama. Dalam hal ini islam, dengan adanya istilah Madrasah, Pondok pesantren, taman Al-qur’an, dan lain-lain.
Namun pada kenyataannya, undang-undang tersebut ternyata belum mampu menghapus persepsi dikalangan masyarakat bahwa sekolah dan madrasah itu berbeda. Baik dari segi kualitas outputnya maupun kesempatan kerja.
B.     Rumusan Masalah
Dalam rangka pembahasan problematika, metode dan model pendidikan Islam, maka disusunlah rumusan masalah sebagai berikut :
1.      Bagaimana problematika pendidikan islam ?
2.      Bagaimana model-model  pendidikan islam ?
3.      Bagaimana metode pendidikan islam ?
C.    Tujuan
Dari rumusan masalah yang ada, maka diharapkan dapat menemukan problematika, metode dan model pendidikan Islam dan solusi penyelesaiannya.

BAB II
PROBLEMATIKA, METODE, DAN MODEL PENDIDIKAN ISLAM

A.    Problematika Pendidikan Islam
Sebagaimana kita ketahui bersama bahwa sumber utama pendidikan Islam sebagai disiplin ilmu adalah kitab suci Al Qur’an dan sunah Rasulullah Muhammad SAW. Sebagai disiplin ilmu, pendidikan Islam bertugas pokok mengilmiakan wawasan atau pandangan tentang kependidikan yang terdapat di dalam sumber-sumber pokok dengan bantuan dari pendapat sahabat, ulama, ataupun  ilmuwan.
Namun demikian, tidak mudah mengaktualisasikan konsep tersebut dalam dunia Pendidikan Islam. Dengan keterbatasan-keterbatasan setiap individu yang berbeda dalam memahami pendidikan Islam maka muncullah problematika pendidikan Islam. Untuk ini akan dibahas sedikit dari berbagai problematika pendidikan Islam yang ada diantaranya adalah :
1.      Kualitas generasi muda Islam dalam menghadapi tantangan zaman.
-          Dalam hal ini menitik beratkan eksistensi generasi penerus  untuk lebih baik dari sebelumnya. Maka akan terjadi peningkatan mutu bangsa dikemudian hari. Untuk itu hendaknya dengan pengetahuan yang relevan. Karena setiap zaman akan mengalami perubahan dan kondisi yang berbeda.
2.      Perluasan sistem pendidikan yang relevan dengan perkembangan zaman yang tetap berpegang pada ajaran Islam.
-          Sistem pendidikan jangan hanya melayani sistem pendidikan formal saja, melainkan dapat mencakup keseluruhan, diantaranya pendidikan non formal. Karena segenap kebutuhan akan pelayanan pendidikan, diantaranya dunia kerja, bermasyarakat, konflik negara, konflik antar agama, dan lain sebagainya tidak mungkin dapat diperoleh dalam pendidikan formal. Tantangan selanjutnya, mencetak ilmuan muslim yang mampu mengaktualisasikan imunya di bidang pendidikan.
3.      Madrasah intitusi pendidikan yang berlabel Islam dapat mencetak generasi berkualitas dalam berbagai bidang. 
"Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah nasib suatu kaum (umat), sehingga mereka sendiri mengubahnya” (Q.S. Ar. Ra’d : 11)
Sebagai antisipasi problematika tersebut maka hendak dilakukan hal-hal sebagai berikut :
  1. Peka terhadap aktivitas perkembangan zaman.
  2. Semakin inovatif dan kreatif dalam pengembangan sistem pendidikan (PAI)
  3. Dan yang paling penting, tetap berpegang teguh pada pokok-pokok ajaran Islam (Al qur’an dan sunah) semodern apapun zaman.
B.     Model-model Pendidikan Islam
Diantara model-model pendidikan Islam adalah sebagai berikut :
1.      Model pendidikan Islam esensialistik.
Model ini berorientasi pada nilai-nilai lama yang konservatif dan ksketis yang membentuk sosok pribadi muslim yang tahan terhadap pukulan zaman.
2.      Model Pendidikan Islam Perenialistik
Model ini berorientasi pada nilai-nilai yang mengandung potensi mengubah nasib masa lampau ke masa kini yang dijadikan inti kurikulum pendidikan. Dimana nilai-nilai yang terbukti tahan lama saja yang di interealisasikan. Sedangkan nilai-nilai yang berpotensi bagi semangat perubahan di tinggalkan.


3.      Model Pendidikan Islam yang Individualistik.
Model ini, potensi aloplastik (mengubah dan membangun) masyarakat dan alam sekitar kurang mengacu kepada kebutuhan sosiokultural.
4.      Model Pendidikan Islam yang bercorak teknologi.
Model ini orientasinya meninggalkan nilai-nilai samawai diganti dengan nilai-nilai pragmatik realistik kultural.
5.      Model pendidikan Islam Dialogis
Mekanisme model ini adalah aksi reaksi dalam perkembangan manusia menjadi gersang dari nilai-nilai Illahi yang mendasari fitrahnya.
Dari berbagai jenis model pendidikan Islam di aras tentunya masih banyak masalah-masalah yang timbul. Hal ini dapat dilihat dari institusi Pendidikan Islam yang ada baik di Indonesia dan luar negeri. Khususnya Indonesia institusi pendidikan Islam telah mendapat pengakuan secara hukum dengan diatas dalam UU pendidikan No. 20 tahun 2003. Tentunya dengan ketentuan-ketentuan yang telah ditetapkan oleh negara. Setiap jenjang telah disamakan dengan pendidikan umum. Tentunya dengan kelebihan dan kekurangan yang dimiliki lembaga masing-masing.
C.    Metode Pendidikan Islam
Secara etimologi kata metode berasal bahasa yunani yaitu meta yang berarti “yang dilalui” dan hodos yang berarti “jalan” yakni jalan yang harus dilalui. Jadi secara harfiah metode adalah cara yang tepat untuk melakukan sesuatu. (poerwakatja, 1982 : 56). Sedangkan dalam bahasa inggris, disebut dengan method yang mengandung makna metode dalam bahasa Indonesia. (Wojowasito, 1980 : 113). Dalam bahasa Arab, metode disebut dengan tariqah yang berarti jalan atau cara.
Secara termologi, para ahli memberikan definisi yang beragam diantaranya adalah cara yang di dalam fungsinya merupakan alat untuk mencapai tujuan. Menurut menurut Ahmad Tafsir dalam Ramayulis (2006 : 184), metode mengajar adalah cara yang paling tepat, dan cepat dalam mengajarkan Mata Pelajaran. Sedangkan menurut Ramayulis sendiri (2006 : 185) Metode adalah seperangkat cara, jalan dan teknik yang digunakan oleh pendidikan dalam proses pembelajaran agar peserta didik dapat mencapai tujuan pembelajaran atau menguasai kopetensi tertentu yang dirumuskan dalam silabi Mata Pelajaran dari pendapat 3 diatas dapat kita pahami bahwa metode pendidikan adalah seperangkat cara, jalan dan teknik yang digunakan pendidik dalam proses pendidikan dan proses pengajaran agar peserta didik dapat mencapai tujuan pembelajaran atau meguasai kopetensi tertentu yang dirumuskan dalam silabi Mata Pelajaran.
Macam-macam metode pendidikan dan pengajaran di antaranya, adalah :
a.       Metode Keteladanan.
Mendidik dengan contoh (keteladanan) adalah suatu metode pembelajaran yang dianggap besar pengaruhya. Seorang pendidik memberikan teladan atas sikap dan segala hal yang baik kepada peserta didik, mempunyai kepridadian yang baik sesuai dengan tujuan pendidikan.
b.      Metode lemah lembut/kasih sayang.
Pentingnya metode lemah lembut dalm pendidikan, karena materi pelajaran yang disampakan pendidikan dapat membentuk kepribadian peserta didik. Dengan sikap lemah lembut yang ditampilkan pendidik, peserta didik akan terdorong untuk akrab dengan pendidik dalam upaya pembentukan kepribadian.
c.       Metode Deduktif.
Metode deduktif (memberitahukan secara global) suatu materi pelajaran, akan memunculkan keingintahukan pelajaran tentang isi materi pelajaran, sehingga lebih mengenal di hati dan memberi yang lebih besar.
d.      Metode perumpamaan.
Metode ini dilakukan dengan cara menyerupakan sesuatu dengan sesuatu yang lain, mendekatkan sesuatu yang abstrak dengan yang lebih konkrit. Perumpamaan sebagai suatu metode pembelajaran selalu syarat dengan makna, sehingga benar-benar dapat membawa sesuatu yang abstrak kepada yang kongkrit atau menjadikan sesuatu yang masih samar dalam makna menjadi suatu yang sangat jelas.
e.       Metode kiasan.
Pendidik mengajarkan suatu materi atau memberi contoh dengan mengiaskan suatu hal terhadap hal lain agar lebih mudah dipahami oleh peserta didik.
f.       Metode tanya jawab atau dialog
Metode ini untuk mengajak si mengajar si pendengar agar fokus dengan pembahasan. Metode dialog berusaha menghungkan pemikiran seseorang dengan lain, serta mempunyai manfaat bagi pelaku dand pendengarnya.
g.      Metode pengulangan.
Suatu proses yang penting dalam pembelajaran adalah pengulangan/latihan atau praktek yang diulang-ulang. Baik latihan mental dimana seorang membayangkan dirinya melakukan perbuatan tertentu maupun latihan motorik yaitu melakukan perbuatan secara nyata merupakan alat-alat bantu ingatan yang penting.
h.      Metode Demonstrasi.
Metode demonstrasi dimaksudkan sebagai suatu kegiatan memperlihatkan suatu gerakan, atau proses kerja sesuatu. Pekerjaan dapat saja dilakukan oelh pendidik atau orng lain yang diminta mempratekan sesuatu pekerjaan.
i.        Metode Eksperimen.
Metode ini sering digunakan dalam ilmu-ilmu eksak dimana peserta didik bereksperimen (melakukan percobaan) dalam menguji kebenaran suatu ilmu atau hal baru.


j.        Metode pemecah masalah.
Peserta didik disuguhi kasus-kasus yang memerlukan keterlibatan dan disuruh mencari penyelesaianya dengan cara-cara atau metode yang telah diajarkan pendidik ataupun dengan metode-metode lain.
k.      Metode pemberian hukum dan pujian (punish and reward)
Hukum atau sanksi diberikan sebagai upaya  untuk menumbuhkan rasa jera agar peserta didik tidak mengulangi kesalahan. Sedangkan pujian diberikan sebagai motivasi agar peserta didik meningkatkan prestasinya.


DAFTAR PUSTAKA

Al-Atsary, Abu ‘Aqil. 2009. Hadist-hadist Tentang Metode Pendidikan (online) http://muslimuny.ilmoe.com/?p=59#more-59.

Arifin, Muzayyin. 2003. Kapita Selekta Pendidikan Islam. Jakarta : Bumi Aksara.

Anonim. 2008. Kumpulan Peraturan Perundangan Pendidikan. Jakarta : Depertemen Agama RI.

Buchori, Mochtar. 1994. Spektrum Problematika Pendidikan di Indonesia.

Rahman Shaleh, Abdul. 2005. Profil Madrasah Masa Depan. Jakarta : Bina Mitra Pemberdayaan Madrasah, Depertemen Agama RI.

Ramayulis. 2006. (cet V). Ilmu Pendidikan Islam. Jakarta : Kalam Mulia.

3komentar:

Posting Komentar

Silahkan meninggalkan pesan yang santun dan tidak menyinggung SARA.
Dilarang Spam!!